Search This Blog

Thursday, August 16, 2012

Tenanglah, tersenyumlah, berbahagialah, dan bersyukurlah :)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Ya, siang itu Allah secara langsung menunjukkan kebesarannya dengan membuat ayat diatas tertanam di hati dan pikiran saya. Ketika kebanyakan orang yang memiliki kenangan tentang FK UNPAD di saat senja, saya berbeda. Dan apa saya malu dengan perbedaan tersebut? Tidak, tidak akan pernah, karena semua ini dari Allah.

Selanjutnya, ketika mungkin banyak mahasiswa lain yang menceritakan perasaan pada saat masuk FK, saya kan lebih menceritakan perjuangan saya memasuki FK UNPAD ini, sehingga saya benar benar tenang, tersenyum, bahagia, dan bersyukur masuk FK UNPAD.

Jauh, jauh sebelum saya datang ke Jatinangor, jauh sebelum saya menginjakkan kaki saya pertama kali di Bale Padjadjaran, saya saat itu berada di mesjid SMA Dwiwarna Boarding School, dan waktu itu tepat setelah saya mendirikan sholat maghrib secara berjama’ah di mesjid SMA saya tersebut. Saya sedang duduk di depan pilar mesjid, lalu dengan antusias saya membuka browser di HP saya. Ya, hari itu, senja itu, merupakan waktu pengumuman SNMPTN Undangan, yang sebelumnya saya sudah mendaftarkan diri saya untuk menjadi calon mahasiswa baru di FK UGM di SNMPTN Undangan tersebut. Hanya satu? Bukannya bisa mendaftarkan banyak pilihan? Ya, saya pikir, saya takut jika saya harus mengambil pilihan yang saya tidak inginkan. Tak lama kemudian, browser HP saya dengan cepat me-loading situs pengumuman SNMPTN Undangan itu, saya masukkan nomor pendaftaran saya, dan saya coba mengecek apakah saya lulus, atau tidak. Dan ketika halaman pengumuman itu telah terbuka dengan sempurna, saya langsung tersenyum, tersenyum sangat lebar.

Teman-teman saya langsung menghampiri saya tidak lama setelah saya tersenyum, mereka semua memberikan selamat, “Selamat ya Ichsan, FK UGM!” Namum saya tetap tersenyum saja tanpa berkata apa-apa. Lalu setelah isya, saat ada bimbel di sekolah saya, saya tetap masuk, dan teman-teman saya dengan heran bertanya, “Kok masih bimbel, San? Kan udah FK UGM tadi? Senyum-senyum.” Saya, dengan tetap tersenyum menjawab, “Kalau saya senyum bukan berarti saya sudah lulus kan? Saya belum lulus kok, kita masih harus berjuang bersama.”

Ya, saya belum lulus FK UGM pada saat SNMPTN Undangan, maka tak lama setelah itu, kembali saya  mendaftarkan diri pada SNMPTN Tertulis, dengan pilihan FK UGM, FK UNHAS, Hubungan Internasional UNPAD berturut-turut. Jelas, dengan bersemangat saya kembali belajar, banyak berdo’a, mengikuti beberapa try-out, demi lulus di SNMPTN Tertulis dan masuk di salah satu pilihan saya tersebut. Saya pun memilih lokasi tes di Yogyakarta, sesuai lokasi pilihan pertama saya di SNMPTN Tertulis. Saya, ibu saya, dan beberapa teman saya terbang ke Yogyakarta, dan bersama-sama tes di UIN Yogyakarta.

Dua hari tes, dan saya pulang ke rumah saya di Depok. Sambil menunggu hasil pengumuman, saya banyak berdo’a, selalu minta agar lulus di FK UGM. Lalu saya juga sedikit mempersiapkan daftar jadwal pendaftaran, tes dan pengumuman ujian mandiri di beberapa universitas, jika saja masih belum beruntung untuk lulus di FK UGM ataupun di pilihan lainnya.

Lalu, hari itu pun tiba. Orang tua saya sudah ‘gregetan’ menunggu hasil pengumuman tersebut. Saat itu, juga sama, saya baru saja telah mendirikan sholat maghrib secara berjama’ah di mesjid, namun saya membuka laptop di rumah, mencoba membuka situ pengumuman tersebut. Sekedar info, twitter sudah sangat ramai membicarakan SNMPTN, ya kalian mengerti lah ya seperti apa ramainya. Dan dengan ditemani ibu dan bapak saya, saya memasukkan nomor pendaftaran, berharap lulus di salah satu pilihan yang telah saya daftarkan. Dan apa hasilnya? Jika sadar saya adalah Abdullah Ichsan, mahasiswa FK UNPAD 2011, maka pasti hasilnya sudah bisa tertebak. Ya, sekali saya masih belum lulus di jalur yang satu ini. Saya ulang memasukkan nomor pendaftarannya sekitar 3-5 kali, namun hasilnya masih sama, yaitu belum lulus. Saya, orang tua saya, bersama-sama terdiam, sedikit tersenyum, namun pasti terbersit rasa kecewa di dalam hati.

Lalu saya iseng meng-copy pernyataan ketidaklulusan saya di situs SNMPTN dan saya post di twitter. Saya kira komentar dari teman-teman saya akan tidak jauh dari “Sabar ya san,” atau “Coba lagi, semangat.” Ternyata, subhanallah, satu orang me-reply tweet saya dengan kurang lebih berkata, “Itu tanda-tanda lulus san, coba tanya call center-nya,” dan reply tersebut pun banyak di-retweet oleh teman-teman saya yang lain. Mata saya berkaca-kaca membacanya, seraya berkata dalam hati, “Alhamdulillah, saya punya teman-teman yang luar biasa, terima kasih ya Allah, insya Allah saya akan terus berusaha.”

”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf:87)

Jelas, saya tidak mau tergolong kaum yang kafir. Maka tepat esok harinya, saya mulai mendaftar di berbagai universitas untuk mengikuti ujian mandiri, SIMAK UI, SMUP UNPAD, International Program Admission Test FK UGM, Jalur Undangan UMY, Ujian Mandiri UIN Syarif Hidayatullah, Ujian Mandiri UNDIP, dan Jalur Non-Subsidi UNHAS.

Hari-hari setelah itu saya jalani dengan mengikuti ujian kesana-kemari, mulai mengirimkan berkas SMUP UNPAD untuk cek nilai SNMPTN, mengikuti tes SIMAK UI, Ujian Mandiri UIN, dan Ujian Mandiri UNDIP di Jakarta, lalu juga kembali ke Yogyakarta untuk tes International Program FK UGM, bahkan pulang ke rumah di Makassar untuk emngikuti tes JNS UNHAS. Dan jujur, saya sempat berfikir, “Ah, kalau UNPAD, SNMPTN UNHAS saja saya tidak lulus, bagaimana dengan UNPAD?” Dua universitas yang paling yakin pada saat saya mengikuti ujian mandirinya adalah UIN, dan UGM. Namun kali ini, do’a saya berubah, tidak lagi meminta untuk masuk FK UGM, melainkan “Ya Allah, Engkau tahu apa yang kuinginkan, namun Engkau lebih tahu apa yang terbaik bagiku, maka berikanlah yang terbaik, wahai Yang Maha Mengetahui.”

Jujur, orang tua saya sangat gelisah di masa-masa ini, mereka terus bertanya, “Apa yang kurang nak? Apa lagi yang harus dilakukan? Bagaimana jika kamu belum lulus juga?” Namun alhamdulullah, Allah selalu memberi kekuatan dan ketenangan, sehingga saya selalu optimis dan menjawab semua kekhaatiran orang tua saya tersebut dengan senyum, “Insya Allah ada yang lulus bu, pak, kalaupun belum, tahun depan saya janji tidak akan memilih FK lagi, mungkin itu memang bukan yang terbaik jika Allah tidak meluluskan saya.” Aneh memang, biasanya anaknya yang menangis, bingung, gelisah, tapi inilah saya, sekali lagi menjadi beda itu sama sekalil tidak salah kok, malah saya bangga bisa menjadi beda.

Akhirnya, setelah beberapa minggu, beberapa bulan, keluarlah hasil ujian pertama, dari UNDIP, saya alhamdulillah lulus di S1 Ilmu Komunikasi. Saya mengucap hamdalah berkali-kali pada saat itu, saya sangat bahagia, saya pikir, mungkin jika yang lain belum lulus, inilah yang terbaik.

Lalu pengumuman selanjutnya dari UI, namun kali ini, saya belum beruntung, saya tidak lulus di pilihan-pilihan saya di UI. Sehingga kembali saya bersyukur sudah lulus di UNDIP, dan saya mulai membicarakan tentang pembayarannya bersama orang tua saya.

Berselang beberapa hari setelahnya saya pun saya sangat bersyukur saat mendapat pengumuman bahwa saya lulus di beberapa universitas lain, namun saat UNPAD dan UGM belum memberikan pengumuman saya berdo’a, “Ya Allah, tunjukkanlah padaku dan yakinkan aku mana yang terbaik, dan lancarkanlah jalanku dalam menggapai yang terbaik itu.”

Dan lagi-lagi Allah kembali menunjukkan kebenaran firmannya, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim: 7)

Siang itu, ya, siang yang akan saya ceritakan kali ini adalah siang yang saya sebut sebagai kenangan di awal cerita ini. STRATA SATU PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN! Alhamdulillahirobbil alamin, siang itu UNPAD mengumumkan saya, Abdullah Ichsan, lulus! Bahagia? Tentu, saya langsung sujud syukur dan menceritakan ini kepada orang tua saya. Dan alhamdulillah Allah melancarkan semua jalan saya sampai saya benar-benar resmi menjadi mahasiswa baru FK UNPAD 2011.
Saat saya memulai rangkaian kegiatan sebagai mahasiswa baru, Allah menunjukkan bahwa memang FK UNPAD-lah yang terbaik untuk saya, bukan di UGM, UNHAS, universitas lainnya, atau mengapa saya belum lulus saat SNMPTN. Pertama dengan saya tidak lulus di UGM, lalu rekomendasi beberapa dokter mengatakan lebih baik saya memilih UNPAD walaupun saya juga lulus di FK UNHAS, dan banyak lagi hal-hal yang meyakinkan saya untuk masuk FK UNPAD, dan saya pikir jika saya sudah lulus di SNMPTN, saya akan berhenti belajar, cepat puas, dan tidak mau lagi banyak berdo’a dan saya tidak akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa setelah berjuang ini. Maka saya makin yakin bahwa Allah selalu yang terbaik untuk hambanya. Sehingga jika ada yang masih bingung mengapa masuk FK UNPAD, maka jangan pernah menyesal, jangan pernah bersedih hati, dan tenanglah, tersenyumlah, berbahagialah, serta bersyukurlah, karena inilah yang insya Allah terbaik untukmu. :)

Thursday, June 28, 2012

SANG PEJUANG, SEKALIGUS PELAYAN INDONESIA



              “Dokter Spesialis Enggan Mengabdi di Merauke”. Itu adalah judul sebuah artikel yang berada pada urutan paling atas ketika saya melakukan search pada situs www.google.com dengan kata kunci “dokter indonesia”. Dan tertera pada artikel itu sebuah kutipan dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke, Adolf J Bolang, yang mengatakan bahwa dokter spesialis yang hendak direkrut selalu meminta beberapa syarat seperti fasilitas mobil, gaji besar, jatah perjalanan dinas, dan fasilitas untuk ikut simposium dan seminar kedokteran.[1] Hal yang membanggakan? Atau hal yang memalukan? Tentunya artikel tersebut tidak berada pada urutan paling atas dalam sebuah penelusuran kata kunci jika artikel tersebut jarang dibuka orang. Dan itu artinya, sebelum saya, sudah banyak orang yang membaca artikel berisi keburukan dan aib dokter di Indonesia tersebut. Masih mending jika yang membacanya hanya dokter-dokter Indonesia, bagaimana jika yang membaca sudah sampai dokter-dokter atau orang-orang di negara lain? Apa patut kita bangga atas rasa patriotisme dokter Indonesia sekarang ini? Apa itu hasil belajar dokter Indonesia selama kurang lebih lima tahun? Dan apakah itu yang disebut pengabdian dokter untuk Indonesia?

            Dokter bukanlah profesi yang bekerja hanya ketika mereka menginginkan untuk bekerja, dokter bukanlah profesi yang hanya mencari keuntungan untuk dirinya semta, namun dokter adalah abdi, dimana kata abdi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang bawahan, pelayan, atau hamba[2]. Hal ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahawa dokter adalah profesi yang rendah dan hanya bisa menjadi pesuruh, malah mengatakan dokter sebagai abdi di sini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dokter memiliki tanggungan yang besar di punggungnya, dokter adalah orang yang diharapkan oleh rakyat Indonesia untuk dapat berjuang demi negaranya, dan dokter pun merupakan pelayan rakyat Indonesia dalam khususnya pada bidang kesehatan sebagai bidang yang ia tekuni saat menuntut ilmu. Maka dimensi pengabdian dokter sendiri sangatlah luas, tidak harus sebagai tenaga kesehatan, namun juga sebagai pejuang bangsa yang siap membela bangsanya.

Lalu apa saja sebenarnya bentuk pengabdian yang dapat dilakukan oleh seorang dokter? Hanya mengobati orang sakit? Sayang sekali jika sampai sekarang kita masih berpikir seperti itu. Dulu, saat masa Pergerakan Nasional, berdirilah Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908. Dimana mahasiswa dokter bernama Soetomo adalah ketua pertama. Berdirinya Boedi Oetomo, bagi sebagian pihak dianggap sebagai momen Kebangkitan Bangsa Indonesia.[3] Hal itu membuktikan bahwa dokter atau mahasiswa kedokteran bukanlah hanya orang yang dapat mengobati orang sakit, namun juga menjadi pelopor perubahan, pemimpin organisasi yang luar biasa, dan seorang nasionalis yang berdedikasi.

Tak berhenti sampai di situ saja, bahkan dahulu beberapa mahasiswa kedokteran pernah mendapat latihan militer singkat Daidan (Batalyon) PETA Jakarta. Lalu itu pun belum apa-apa, seorang dokter yang mungkin tidak banyak dari mahasiswa kedokteran hari ini kenal, dr. Rubiono Kertapati adalah orang penting dalam intelejen ketika Sukarno berkuasa. Dimana Rubiono terbiasa menjadi analis intelejen bagi Sukarno.[4] Dia bahkan dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Dia aktif dalam Depatemen Pertahan ketika Republik baru berdiri. Dia punya pangkat Letnan Kolonel. Jadi? Masih merasa apa yang kita lakukan sampai sekarang sudah cukup? Masih mau mencari celah agar bisa terhindar dari tugas-tugas untuk mengabdi kepada tanah air? Jika ya, maka berhentilah menjadi dokter ataupun mahasiswa kedokteran sekarang juga.


Pada tahun 1950, jumlah dokter di Indonesia baru mencapai 2.500 orang, lalu pada tahun 1968, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 5.000 orang. Sekarang? Mungkin sudah puluhan ribu dokter di Indonesia.[5] Namun apakah semua dokter yang ada di Indonesia sekarang mau mengabdikan dirinya sebagai dokter untuk Indonesia? Jawabannya sudah jelas tidak. Paragraf pertama pada tulisan saya kali ini saya pikir sudah dapat menjelaskan banyak terhadap jawaban tersebut. Dokter banyak yang berdalih bahwa mereka tidak mau melakukan praktik di tempat terpencil karena fasilitas yang diberikan oleh pemerintah kurang kurang, gaji yang didapatkan kecil, sarana transportasi yang tidak memadai, dan lain sebagainya. Akan tetapi Prof. Anies Baswedan menyanggah peryataan tersebut dengan sebuah kalimat yang tepat, “Secara konstitusional peran menyehatkan masyarakat ini memang tanggung jawab negara, tetapi secara moral ini adalah tanggung jawab mereka yang sudah dididik ilmu kesehatan masyarakat, yakni para dokter.”[6]

Masalah selanjutnya yang tak kalah penting adalah dimana kebanyakan dokter hari ini tidak mau susah susah-susah melakukan tindakan promotif dan preventif, padahal kedua hal tersebut juga merupakan fungsi dokter selain kuratif dan rehabilitatif. Mereka merasa dengan praktek di beberapa rumah sakit ataupun tempat praktek yang mereka dirikan sendiri sudah cukup dianggap sebagai dedikasi untuk bangsa, mereka merasa semua itu sudah cukup menjadi bentuk pengabdian mereka untuk Indonesia, sehingga tidak perlu lagi memberikan pendidikan tentang kesehatan kepada pasien, keluarga pasien ataupun masyarakat luas. Kali ini Dr. Ratna Sitompul, Sp.M (K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengeluarkan sebuah pernyataan terkait masalah tersebut dalam orasinya, "Dokter berasal dari bahasa latin docere yang berarti mendidik. Ini berarti tugasnya bukan cuma mengobati tapi juga mendidik pasien, keluarga pasien, dan masyarakat akan kesehatan."[7]

Sayangnya tidak banyak institusi pendidikan kedokteran yang mengadakan acara seperti village project dimana peserta didiknya bisa terjun langsung ke masyarakat yang membutuhkan pertolongannya, khususnya di pedesaan, dimana alat-alat kedokteran masih sangan minim, penyuluhan tentang kesehatan pun masih belum banyak didapatkan. Padahal acara-acara seperti itulah yang bisa menjadi salah satu solusi dari berbagai macam kekurangan dokter Indonesia dalam hal pengabdian di atas, karena acara-acara seperti ini semain membuka lebar kesempatan bagi para calon dokter atau bahkan para dokter umum dan dokter spesialis untuk mengetahui seperti apa sebenarnya keadaan masyarakat di sekitarnya serta mengetuk hatinya untuk mulai lebih peka dan lebih peduli serta menumbuhkan rasa sebagai abdi, pelayan untuk Indonesia.

Akan tetapi kendati pun nantinya para dokter sudah mau mengabdikan dirinya pada negara, bukan berarti pemerintah bisa dengan mudah melepas mereka dan tidak memikirkan pengembangan fasilitas kesehatan di pedesaan ataupun kesejahteraan dokter yang ingin mengabdi tersebut, karena seperti yang dikatakan Prof. Anies Baswedan tadi, pemerinah tetap bertanggung jawab secara konstitusional terhadap kesehatan rakyat. Tidak perlu terlalu mewah memang, tapi setidaknya dokter tersebut bisa nyaman dalam mengabdi kepada bangsa, karena jika tidak, lama-kelamaan dokter-dokter tersebut pun akan merasa dirugikan oleh pemerintah jika semua hal tersebut diabaikan.

Sebagai kesimpulan, dokter adalah sebuah profesi yang luar biasa, dengan intelektualitas yang juga luar biasa, maka jika seorang dokter hanya melakukan hal yang biasa orang-orang yang bukan dokter lakukan, maka ia masih perlu menjalani pendidikan tentang moral yang lebih komprehensif dan konkret. Dan jika masih ada mahasiswa kedokteran yang tidak memiliki rasa patriotisme serta tidak ingin mengabdikan dirinya pada rakyat Indonesia, maka jangan pernah sekali-kali ikut berteriak, “Hidup rakyat Indonesia!” setelah bertertiak “Hidup mahasiswa!” Karena mereka tidak pantas untuk melakukannya, toh mereka hanya memikirkan kehidupannya sendiri, tanpa memikirkan kehidupan rakyat Indonesia, rakyat di negeri tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dibentuk untuk menjadi seorang dokter nantinya.


[1] http://regional.kompas.com/read/2011/09/12/19260769/Dokter.Spesialis.Enggan.Mengabdi.di.Merauke, diunduh pada hari Senin,
   tanggal 18 Juni 2012.
[2] http://bahasakemendiknas.go.id/kbbi/index.php, diunduh pada hari Selasa, 20 Juni 2012.
[3] Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum dan Sesudah Revolusi), Jakarta, LP3ES, 2005, hlm 152-172.
[4] Ken Conboy, Intel: Menguak Dunia Intelejen Indonesia, Jakarta.
[5] http://health.kompas.com/read/2012/02/22/13553816/Dokter.Punya.Peluang.Mengabdi.pada.Bangsa, diunduh pada hari Senin,
   tanggal 18 Juni 2012
[6] Ibid.
[7] http://health.kompas.com/read/2012/02/22/13553816/Dokter.Punya.Peluang.Mengabdi.pada.Bangsa, diunduh pada hari Senin,
  tanggal 18 Juni 2012

DOKTER, DEDIKASI “DIA-DIKASIH” UNTUK BANGSA


Senyum, ya, hal itulah yang saya lakukan secara spontan ketika melihat contoh penggunaan kata dedikasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak? Contoh penggunaan yang tertera pada kamus tersebut adalah “dokter itu berdedikasi pada ilmunya (profesinya)”[1]. Bahkan ketika orang pertama kali mencari arti kata dedikasi pada kamus besar yang berisi seluruh kata dalam bahasa Indonesia dan dijelaskan dengan komprehensif arti dan contoh penggunaannya, profesi yang akan teringat adalah dokter, sebagai orang yang berdedikasi.

Jelas yang dapat mendedikasikan dirinya untuk bangsa bukan hanya dokter, seluruh profesi pun bisa dijadikan sarana untuk berdedikasi kepada bangsa jika memang pemilik profesi tersebut memiliki tujian yang mulia. Kita bisa mengambil profesi satpam sebagai contohnya. Mungkin banyak dari kita yang mencibir profesi tersebut seraya berkata, “Ah, tidak ada satpam pun semuanya akan tetap aman kok, paling yang mereka kerjakan hanya duduk, diam, merokok.” Memang benar, tugas mereka hanyalah menjaga, jika ada sesuatu yang salah, barulah mereka berindak, namun coba tanya pada diri kita sendiri, apakah kita mau menjadi satpam? Apakah kita mau menjaga ketertiban dan keamanan daerah yang ditugaskan kepadanya untuk dijaga? Jika di negeri kita ini tidak ada satpam, saya yakin, polisi pun enggan jika harus berpencar menjaga sebuah tempat kecil, dan hasilnya tempat itu pun, jika tidak ada satpam yang ingin mendedikasikan dirinya demi keamanan, tidak akan ada yang dapat menjamin keamanan. Profesi sederhana? Mungkin terlihat seperti itu, namun tanggung jawabnya besar.

Lalu untuk arti kata dedikasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia[2]. Dan kata dedikasi ini pun sangat erat hubungannya dengan kata pengabdian. Arti dedikasi pada kamus tersebut pun sebenarnya sudah sangat jelas dan konkret, namun jika saya merasa jika saya memilih judul “Dokter, dan dedikasinya untuk bangsa” sebagai judul tulisan saya kali ini, kata dedikasi pada kalimat tersebut mungkin bagi sebagian orang masih akan terasa terlalu luas artinya dan tidak langsung dapat diingat dan dirasakan serta diaplikasikan oleh dokter-dokter di Indonesia sekarang ini. Maka dari itu saya memilih memelesetkan kata “dedikasi” tersebut menjadi “dia-dikasih”, sehinga maksud saya membuat tulisan ini pun saya harap akan lebih mudah dimengerti serta isinya juga akan mudah diresapi. Walaupun jelas sedikit demi sedikit memaparkan maksud arti dedikasi yang sebenarnya khususnya untuk profesi dokter. Maka jadilah judul tulisan saya kali ini “Dokter, ‘dia-dikasih’ untuk bangsa”.

Ya, tidak lain dan tidak bukan dokter “dikasih” oleh Allah kepada bangsa kita ini semata-mata untuk menjalankan tugasnya sebagai manusia yaitu beribadah kepada-Nya dan tentu mendedikasikan dirinya pada bangsanya, yang dalam hal ini adalah Bangsa Indonesia. Maka jika masih ada dokter-dokter yang tidak ingin berdedikasi, tidak ingin mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya, apalagi yang dari awal ingin menjadi dokter hanya untuk mendapatkan uang dan gaji yang banyak, maka walaupun ia telah bergelar “dr.” di depan namanya, tidak pantas ia disebut dokter. Sama sekali tidak pantas.

Kita lihat saja, menurut Yati Soenarto, Guru Besar Pediatric Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga Peraih Penghargaan Achmad Bakrie untuk kategori keokteran, penghargaan tersebut membangkitkan semangat untuk terus melakukan penelitian. Sebab bagi dokter, melakukan penelitian berarti kehilangan waktu untuk lebih banyak buka praktik melayani pasien yang otomatis mengurangi pendapatan[3]. Salah satu bentuk dedikasi yang konkret, mengorbankan tenaga dan pikiran jelas dibutuhkan dalam melakukan penelitian, dan seperti yang telah beliau tuturkan, dalam melakukan penelitian waktu juga harus dikorbankan, dan harapan memperoleh pendapatan yang besar pun harus ditinggalkan jauh-jauh. Hal itu lagi-lagi dilakukan baik demi dunia kedokteran serta demi bangsa Indonesia.

Selanjutnya, tidak hanya sampai di situ, seorang dokter bernama Nurhayati Hamzah, seorang dokter kelahiran Balikpapan, menjelaskan bahwa dirinya sebagai dokter muda mempunyai suatu tugas penting untuk memperbaiki kesehatan masyarakat, “Hanya memberikan dedikasi terbaik,” ujarnya. Dan didasarkan pada niat berdedikasi tersebut, ia bercita-cita untuk membuka klinik sendiri[4]. Maka, apakah bentuk dedikasi dokter itu sempit? Saya pikir tidak, dedikasi sendiri tidak pernah mengikat, yang dibutuhkan hanya dua hal, pengorbanan dan harapan atas keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia.

Unsur selanjutnya yang ingin saya angkat dari arti kata dedikasi adalah tujuan mulia. Dokter sering dianggap sebagai profesi yang mulia karena mereka bertugas membantu mengobati orang sakit—karena jelas yang dapat mengobati dan menyembuhkan orang yang sakit adalah Allah SWT—dan membantu menjaga masyarakat agar tetap sehat. Kesehatan adalah barang yang mahal, benar, maka dibutuhkan pemahaman atas tujuan yang mulia tersebut serta pemahaman bahwa dokter adalah profesi yang mengemban amanah besar, dan pada Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 27 pun Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” Betapa besar tanggung jawab dokter jika kita benar benar mengerti dan meresapi.

Akan tetapi, pemahaman, dan pengertian akan tujuan yang mulia itu tidak akan bisa ditanamkan hanya mulai ketika menjadi ko-ass, namun sejak dini, paling tidak sejak dokter-dokter tersebut berada pada tahap mahasiswa kedokteran. Para mahasiswa keokteran harus banyak dipaparkan pada masalah kesehatan yang ada pada lingkungannya, dan diajarkan lebih banyak untuk mengkaji masalah-masalah tersebut, mencari solusinya, sehingga mereka sejak menjadi mahasiswa kedokteran sudah memiliki impian besar, serta tujuan yang mulia untuk menyehatkan bangsa Indonesia. Karena yakinlah, tanpa target yang jelas, impian yang besar, dan tujuan yang mulia, akan sangat sulit untuk mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu, akan sangat sulit untuk memberikan dedikasi penuh.

Dokter-dokter Indonesia sejak dulu sudah banyak yang menjadi orang besar, banyak yang namanya dijadikan nama rumah sakit sebagai sarana untuk mengenang jasa mereka, banyak pula yang bahkan menjadi orang besar di bidang militer serta politik, dan sekarang makin banyak penelitian dokter Indonesia yang diapresiasi oleh masyarakat dunia. Maka apakah kita sebagai dokter atau mahasiswa kedokteran mau diam saja? Apakah kita masih tidak mau mendedikasikan diri kita untuk bangsa kita sendiri? Atau bahkan masih hanya ingin memikirkan kesejahteraan kita sendiri tanpa memikirkan di luar sana banyak yang membutuhkan pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu kita? Jika memang seperti itu artinya kita sudah mengkhianati amanah yang telah kita pilih sendiri, bahkan kita telah mengkhianati amanah yang telah diberikan oleh Allah SWT, karena bagi rakyat Indonesia, dokter-dokter itu diberikan oleh Allah kepada mereka untuk berdedikasi penuh kepada bangsanya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Maka sekali lagi, dokter, “dia-dikasih” untuk bangsa, bangsa Indonesia.


[1] http://bahasa.kemendiknas.go.id/kbbbi/index.php.
[2] Ibid.
[3] http://nasional.vivanews.com/news/read/169326-dedikasi-dokter-peraih-achmad-bakrie-award
[4] http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=74454

Sunday, March 25, 2012

Setelah Timor Timur, apakah Yogyakarta juga akan menjadi "penerus"nya?

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketidakjelasan nasib Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat masyarakat semakin kecewa dengan kepemimpinan nasional Indonesia.
Bahkan, kondisi terburuk jika pemerintah pusat tak juga memberikan tuntutan atas keistimewaan Yogyakarta, tidak menutup kemungkinan Yogyakarta melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Itu keputusan detik-detik terakhir. Kalau pemerintah tidak mau memperhatikan sejarah lagi, itu risiko dan kami akan bersikap," kata GBPH Prabukusumo usai menghadiri Apel Siaga Rakyat Yogyakarta Pro Penetapan di Alun-alun Puro Pakualam, Minggu (25/3/2012).
Prabukusumo juga yakin, Yogyakarta tetap akan dapat bertahan kalau harus lepas dari NKRI. Meski hanya memiliki sumber daya alam sedikit, tapi Yogyakarta punya sumber daya lain yang bisa menaungi seluruh rakyat.
"Itu suatu konsekuensi. Saya punya keyakinan Yogyakarta mampu," tegas Prabukusumo.
Ia juga mengatakan, mendiang ayahnya, Sultan Hamengku Buwono IX, merupakan orang yang membuka perdagangan Indonesia-Jepang. Ratusan triliun rupiah investasi Jepang masuk ke Indonesia sejak saat itu.
"Kalau Ngarso Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) berkenan dan bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan masyarakat, pasti Jepang akan memberikan bantuan," ungkap dia.
Sementara, Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto, mengatakan, rakyat DIY tak akan mundur sejengkal pun untuk terus memperjuangkan keistimewaan dengan penetapan.
"Kami meminta masyarakat untuk melakukan pemboikotan, sabotase, dan pembangkangan sipil terhadap semua mekanisme pemilihan yang dipaksakan pemerintah pusat," ajak Hasto.

Beginilah, ya, begini lah Indonesia, masalah BBM belum selesai, Tomcat sudah menyerbu. Lalu sebelum Tomcat selesai dibasmi, kali ini RAKYAT YOGYAKARTA MENUNTUT kejelasan nasib RUU Keistimewaan DIY...

Indonesia memang terkadang terlalu memiliki banyak harapan yang manis manis, sedangkan masalah yang besar di dalam negeri malah belum selesai selesai. Sebuah karakteristik yang saya sebagai rakyatnya bukanlah orang orang yang ingin secara mentah-mentah menentang pemerintah. Namun terutama tentang DIY ini, masalah dalam negeri kita perlu mendapat perhatian khusus.

Sebuah rancangan jelas harus segera dibuat aksi jelasnya, maka sebuah Rancangan Undang Undang pun seperti itu, harus segera dibuat kejelasan Undang Undangnya. Hal ini pun bukan baru terjadi 1 kali, belakangan, kita juga mendengar kontroversi terntang RUU Pendidikan Kedokteran, yang juga terasa kurang jelas di mata beberapa stakeholder yang terlibat dalam RUU tersebut.

Selanjutnya tentang kata-kata "Siap Berpisah"...
Sedikit merenung, kembali mengingat masa lalu, Berpisahnya Timor Timur dari NKRI disebut sebut sebagai kegagalan Presiden Habibie pada saat itu. Apakah DIY dengan segala harta Indonesia di dalamnya juga akan kita biarkan berpisah?

Maka sebenarnya tidak terlalu rumit, tuntutan mereka pun tidak muluk-muluk, mereka minta kejelasan, wahai para pemimpin yang rapat dengan berpakaian safari di sana. Segeralah menuntaskan permasalahan negara ini satu per satu, lalu barulah kita bisa maju bersama sama, sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. ;)

Indonesia memang terkadang terlalu memiliki banyak harapan yang manis manis, sedangkan masalah yang besar di dalam negeri malah belum selesai selesai.

Friday, June 10, 2011

[susu madu] ada pelecehan seksual !! Hahaha :D

anak kecil udah disuruh ngangkang buat promosi pakaian :D

Friday, May 27, 2011

Hal yang Lebih Baik daripada Menginginkan Sesuatu yang Lebih Baik :)

Halo lagiiii :D
Hahaha sudah lama sekali ya rasanya saya belum menulis di blog yang penuh manis dan pahit kehidupan :D
Baiklah, untuk kali ini, saya sadar kok kalo judulnya membingungkan T___T
Tapi inilah kehidupan, terkadang rasanya beda kok dari kelihatannya seperti kopi dan susu :)

Beberapa waktu lalu, Alhamdulillah saya sudah lulus dari bangku SMA, walaupun dengan nilai yang saya bilang sangat pas-pasan, dan walaupun lagi saya belum dapat universitas negeri dengan jurusan kedokteran yang saya inginkan, serta walaupun lagi saya belum bisa dikatakan menguasai apa yang harusnya saya kuasai untuk SNMPTN nanti tanggal 31 Mei - 1 Juni 2011. Tapi tenang dulu, sudah lama jug rasanya saya tidak mengurus kopi dan susu saya di dunia maya. Hahaha :D

Nah, mari kita mulai :)
Sesuai dengan yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya, saya jelas belum mendapatkan yang saya inginkan, dan oleh karena itu saya tentu menginginkan hal yang lebih baik. Ketika saya melihat nilai saya, hasil pengumuman SNMPTN undangan, dan perkiraan kemampuan saya, saya merasa ingin lebih ingin lebih dan ingin lebih lagi. Tapi tepat pada pagi ini, dua orang yang pernah saaangat dekat dengan saya, yaitu K.C dan V.B, secara tidak langsung mengingatkan saya bahwa saya adalah orang yang terlalu "bernafsu" untuk mendapatkan sesuatu yang bagi saya lebih baik padahal itu belum tentu pasti saya dapatkan dan belum tentu lebih baik dari apa yang saya miliki. Saat ini saya benar-benar merasa terlalu sombong dan terkesan bodoh.

Terkadang karena saat kita memiliki sesuatu, kita berfikir bahwa apa yang kita miliki itu masih kurang, masih kurang, dan masih kurang terus tanpa pernah puas. Padahal yang sering terjadi adalah yang sedang kita miliki itu sudah jelas sangat baik dan kita bisa mempertahankan dan menjaganya. Sedangkan yang kita ingin miliki selanjutnya belum tentu bisa kita miliki dengan baik dan belum tentu juga kita bisa menjaga dan mempertahankannya. Memang itu adalah kebiasaan manusia, tapi jelas itu adalah kebiasaan yang super buruk, teman-teman.

Lalu bagaimana dengan prestasi? Bagaimana dengan kemampuan? Apa kita harus tetap diam di satu titik saja dan cepat puas? Tentu tidak!!  Maka dari itu untuk soal prestasi, sebelum berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, yang coba pikirkan dulu apa saya benar-benar sudah mahir dalam bidang itu? Kalau belum maka kuasai dulu bidang tersebut baru mencari prestasi yang lebih baik lagi. Lebih buruk lagi jika kita sirik dan iri terhadap orang lain yang mendapat prestasi lebih baik sedangkan kita tidak, lalu kita tidak rela dan berusaha menjatuhkan orang tersebut. Hal itu fatal, teman-teman. Coba pikirkan lagi, apa kita siap jika harus mempertahankan perstasi yang setinggi itu? Apa kita siap jika tiba-tiba prestasi kita jatuh? Mungkin orang yang mendapat prestasi yang lebih baik itu sudah siap, maka dari itu ia mendapatkannya. Jadi, tidakkah lebih baik kita membenahi diri kita dan bersyukur lebih dahulu sebelum berharap lebih?

Selanjutnya, selain untuk kemampuan, judul kali ini sangatlah cocok untuk kita hubungkan dengan kekayaan, atau bahkan pasangan hidup kita. Untuk kekayaan, jelas, apakah kita sudah bisa merawat barang-barang yang kita miliki sekarang? Apa kita sudah bisa menggunakan semua yang kita miliki sekarang dengan efektif? Jika belum, maka jangan dulu meminta lebih. Karena mungkin saat kita mendapatkan hal yang lebih, kita malah menjadi tidak begitu peduli, tidak bisa menjaga, dan tidak bisa menggunakannya dengan baik.

Sedangkan untuk pasangan hidup, baik pacar, atau bahkan suami/istri. Hal ini cukup berbeda, sangat amat sedikit sekali pasangan yang mau diduakan. Berarti untuk hal pasangan, anda harus meninggalkan satu dulu baru mencari yang lain. Nah, coba pikirkan, pikirkan, dan pikirkan lagi, apakah orang yang kita tuju ini akan lebih baik, lebih menyayangi kita, dan lebih menghargai kita dibandingkan dengan pasangan kita yang sekarang? Jika belum tentu, jangan, kecuali memang pasangan anda yang sekarang sudah sangat parah tidak menghargai anda dan terkdang terlihat tidak menyayangi anda. Anda tidak akan pernah tau seperti apa orang itu dalam berpasangan dengan melihat kehidupan sehari-harinya karena itu jauh beda halnya. Maka, jika pasangan hidup anda sudah baik, setidaknya bisa memberikan apa yang telah anda berikan dengan balanced take-and-give atau bahkan bisa memberikan yang lebih baik dari apa yang anda berikan, jangan sekali-kali anda memintanya untuk mengakhiri hubungan anda.

Syukuri semuanya, tidak semua hal yang menurut anda baik adalah yang terbaik untuk anda. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, karena anda pun jelas sudah tahu, waktu tak bisa dikembalikan, dan tiap hal memiliki plus-minus masing masing. Satu hal lagi, tenang saja, kalau memang sudah waktunya, anda akan mendapatkan hal yang anda inginkan itu jika itu memang baik untuk anda. Hidup itu jelas indah jika kita selalu berusaha tersenyum dan menikmati apa yang kita miliki, termasuk kopi dan susunya. Hehehe :)

SENTENCE(S) OF THIS ENTRY:
"Padahal yang sering terjadi adalah yang sedang kita miliki itu sudah jelas sangat baik dan kita bisa mempertahankan dan menjaganya. Sedangkan yang kita ingin miliki selanjutnya belum tentu bisa kita miliki dengan baik dan belum tentu juga kita bisa menjaga dan mempertahankannya."