Search This Blog

Showing posts with label Abdullah Ichsan. Show all posts
Showing posts with label Abdullah Ichsan. Show all posts

Sunday, October 28, 2012

what @abdichsan says about #SumpahPemuda

Pertama : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pernahkah kita berfikir mengapa Teks Soempah Pemoeda yang dibacakan pada waktu Kongres Pemuda berbunyi tepat seperti itu?  

Ya, 28 Oktober, memang sudah banyak yang ingat bahwa hari ini adalah hari Sumpah Pemuda, tapi kebanyakan hanya ingat saja  

Walaupun mungkin jika pengetahuan saya tentang diadu, saya akan kalah telak.. Namun, yuk mari renungkan sejenak..
 
Pada pertama, hanya ada satu tumpah darah, dan jika kita hanya memiliki satu, apakah wajar jika kita tak mencintainya?

Ya, tanah air Indonesa, kawan :) Cintailah tanah airmu ini, banggakanlah ia! Berikan yng terbaik untuknya! Untuk Indonesia! ;)  

Ini tanah tumpah darah kita kawan! Mengapa kita masih diam saja saat negara ini dipermainkan? Mengapa tak ada yang membelanya?
 
!! Tidak pantas kita menyebut Indonesia adalah tanah air kita, tanah tumpah darah kita jika kita tak membelanya!!

 Lalu yang kedua, mengaku berbangsa yang satu, ya, lagi lagi kata "satu" digunakan dalam teks pemuda ini.

Kata "satu" bukan sembarangan digunakan, namun karena makna persatuannya kawan, maka sampai kapan kita mau terpecah belah?

Bangsa Indonesia. Ya, bangsa ini yang harus kita prjuangkan bersama, bukan kpentingan pribadi. Hapus ego, ayo brjuang bersama!
 
Berjuang untuk bangsa Indonesia, berjuang untuk kelangsungan rakyat Indonesia, itu semua artinya juga berjuang untuk kita!
 
Yang terakhir, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Apa karena ini kita tidak boleh menggunakan bahasa lain?  
 
! Bukan saatnya lagi berfikir sempit. Soekarno bisa berbicara dalam 3 bahasa!! Dan apa itu salah? Tidak kawan.  

 Kita boleh bisa banyak bahasa, baik bahasa asing, apalagi bahasa daerah. Karena dari situlah gerbang kita untuk berjuang...
 
Bagaimana kita bisa mengadvokasikan kepentingan Indonesia ke bangsa asing jika tidak bisa bahasanya?  
 
Bagaimana kita bisa menurunkan nilai perjuangan ke daerah-daerah di Indonesia jika kita tidak bisa bahasanya?  
 
Hanya saja, untuk mempersatukan kita, Bahasa Indonesia hadir :) Dan kewajiban kita untuk menguasainya sebelum bahasa2 lain ;)  
 
Dan junjung tinggi Bahasa Persatuan kita tersebut. , mari bangga mnggunakan Bahasa Indonesia! Jangan pernah malu!  
 
Dan jangan lupa, prjuangan kita untuk Indonesia bukan hanya untuk dunia kok, ini juga kbaikan yg dibawa untuk akhirat nanti ;)  
 
, Niatkan sebaik mungkin, dan lakukan sesegera mungkin, sekecil apapun kontribusimu, itu pasti sangat berharga ;)  

, Jangan jadikan momen ini sbagai satu-satunya momen 'tuk berjuang, jadikan ini titik awal 'tuk trus berjuang!  

Jangan No Action Talk Only, jangan juga No Talk Action only. Karena berbuat dan berkata-kata sama pentingnya ;)

Ya, Sumpah Pemuda sebagai momen "talk" pemuda masa itu, dan Kemerdekaan Indonesia sebagai buah dari "action" mereka.  

Dan yang pasti, bukan berarti kita yang hidup di zaman yang telah lepas dari penjajahan ini perjuangannya bisa kendor ;)  

, Bangkit sedini mungkin! Katakan selantang mungkin! Lakukan sebaik mungkin! dan Perjuangkan sehebat mungkin!

 

Saturday, October 27, 2012

27 Oktober 2012; “Hanya saja, caranya belum tepat.”



     Ya, pagi tadi, setelah saya sarapan, bersiap-siap, dan memasukkan barang-barang saya yang tadinya berserakan ke dalam tas ransel saya, oom saya mengajak saya untuk bersegera turun ke lantai dasar rumahnya, karena beliau akan mengantar saya ke terminal Lebak Bulus dimana saya akan memulai peralanan panjang saya kembali ke Jatinangor setelah merayakan Idul Adha bersama keluarga—walaupun Ibu dan Bapak saya sedang tidak bisa datang dari rumah kami di Makassar kali ini.

                Jarak Bintaro-Lebak Bulus memang tidak bisa ditempuh dengan waktu yang relatif cepat, namun di perjalanan, banyak hal baru yang saya ketahui—thanks to my unbelieveable kind uncle. Setiap ada bangunan baru atau jalanan baru, beliau pasti berkomentar dan menceritakan kapan mulai dibangunnya, mengapa dibangun, bahkan sampai perusahaan apa yang akan menempatinnya. Semua beliau ceritakan dengan amat detail.

                Akhirnya, sampailah kami di dekat pintu masuk terminal Lebak Bulus, namun entah mengapa, oom yang sedang mengemudi ini terlihat tidak menginjak rem, ia hanya menepi, lewat sudah pintu keluar angkot-angkot, dan ia terus maju, dan akhirnya sampailah di dekat mesjid terminal Lebak Bulus, dan ia berkata, “Kan kamu harus beli tiket dulu kan di sini?”. Saya hanya tersenyum dan berkata, “Ngga perlu sih, oom,” lalu sambil turun saya melanjutkan, “Ya sudah, sampai sini saja ya oom, makasih banyak,” dan saya akhiri dengan salim. “Oh oke mas, tadi oom kira kamu harus beli tiket dulu, maaf deh ya, selamat jalan ya hati hati,” begitu salam perpisahan beliau yang tepat pada saat itu pula sebuah bus Prima Jasa bertuliskan Tasik-LB. Bulus melintas di sebelah saya. Dan sesaat setelah itu, oom saya mulai meninggalkan saya yang masih tersenyum.

Ya, benar, seharusnya saya naik bus Prima Jasa Tasik-LB. Bulus itu. Dan sesaat setan sempat membisiki hati saya untuk kesal pada oom saya yang tidak tau bahwa dengan saya turun di pintu masuknya akan lebih mudah untuk bisa naik bus yang baru saja lewat, namun tidak sampai satu menit, alhamdulillah saya sudah bisa tersenyum lagi. Ya, beliau sudah sangat, sangat baik pada saya, dan tindakan beliau yang ingin mengantarkan saya lebih dekat dengan penjualan tiket itu pun adalah niatan baik yang luar biasa, hanya saja, caranya yang belum tepat. :’)

Sering teman, sahabat, kerabat, keluarga, atau bahkan orang tua kita sendiri yang sudah mau berbuat sebaik mungkin, memberikan yang terbaik untuk kita, namun hanya karena caranya salah, kita jadi kesal dan merasa mereka hanya menyulitkan kita saja karena tidak mengerti yang kita inginkan.

Ayolah kawan, kalian pikir semua orang di dunia ini mau berbuat sebaik itu pada kalian? Kalian pikir semua orang menyayangi kalian selayaknya keluarga kalian? Atau kalian pikir ada orang yang lebih besar perjuangannya dalam membuktikan cinta kasihnya pada kalian daripada orang tua kalian sendiri? Saya pikir tidak. Jadi mulai sekarang, berhentilah memandang perbuatan orang lain, sekecil apapun itu sebagai hal yang menyulitkan kalian, biasakan berprasangka baik, biasakan mencari hal baik yang mungkin tersembunyi dibalik segala kejadian yang terjadi di dunia ini, karena semua yang terjadi di dunia ini pasti baik. Why? Because semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Baik. :)

Selamat mencari dan menerbarkan kebaikan, kawan ;)

"Biasakan mencari hal baik yang mungkin tersembunyi dibalik segala kejadian yang terjadi di dunia ini, karena semua yang terjadi di dunia ini pasti baik."

Thursday, August 16, 2012

Tenanglah, tersenyumlah, berbahagialah, dan bersyukurlah :)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Ya, siang itu Allah secara langsung menunjukkan kebesarannya dengan membuat ayat diatas tertanam di hati dan pikiran saya. Ketika kebanyakan orang yang memiliki kenangan tentang FK UNPAD di saat senja, saya berbeda. Dan apa saya malu dengan perbedaan tersebut? Tidak, tidak akan pernah, karena semua ini dari Allah.

Selanjutnya, ketika mungkin banyak mahasiswa lain yang menceritakan perasaan pada saat masuk FK, saya kan lebih menceritakan perjuangan saya memasuki FK UNPAD ini, sehingga saya benar benar tenang, tersenyum, bahagia, dan bersyukur masuk FK UNPAD.

Jauh, jauh sebelum saya datang ke Jatinangor, jauh sebelum saya menginjakkan kaki saya pertama kali di Bale Padjadjaran, saya saat itu berada di mesjid SMA Dwiwarna Boarding School, dan waktu itu tepat setelah saya mendirikan sholat maghrib secara berjama’ah di mesjid SMA saya tersebut. Saya sedang duduk di depan pilar mesjid, lalu dengan antusias saya membuka browser di HP saya. Ya, hari itu, senja itu, merupakan waktu pengumuman SNMPTN Undangan, yang sebelumnya saya sudah mendaftarkan diri saya untuk menjadi calon mahasiswa baru di FK UGM di SNMPTN Undangan tersebut. Hanya satu? Bukannya bisa mendaftarkan banyak pilihan? Ya, saya pikir, saya takut jika saya harus mengambil pilihan yang saya tidak inginkan. Tak lama kemudian, browser HP saya dengan cepat me-loading situs pengumuman SNMPTN Undangan itu, saya masukkan nomor pendaftaran saya, dan saya coba mengecek apakah saya lulus, atau tidak. Dan ketika halaman pengumuman itu telah terbuka dengan sempurna, saya langsung tersenyum, tersenyum sangat lebar.

Teman-teman saya langsung menghampiri saya tidak lama setelah saya tersenyum, mereka semua memberikan selamat, “Selamat ya Ichsan, FK UGM!” Namum saya tetap tersenyum saja tanpa berkata apa-apa. Lalu setelah isya, saat ada bimbel di sekolah saya, saya tetap masuk, dan teman-teman saya dengan heran bertanya, “Kok masih bimbel, San? Kan udah FK UGM tadi? Senyum-senyum.” Saya, dengan tetap tersenyum menjawab, “Kalau saya senyum bukan berarti saya sudah lulus kan? Saya belum lulus kok, kita masih harus berjuang bersama.”

Ya, saya belum lulus FK UGM pada saat SNMPTN Undangan, maka tak lama setelah itu, kembali saya  mendaftarkan diri pada SNMPTN Tertulis, dengan pilihan FK UGM, FK UNHAS, Hubungan Internasional UNPAD berturut-turut. Jelas, dengan bersemangat saya kembali belajar, banyak berdo’a, mengikuti beberapa try-out, demi lulus di SNMPTN Tertulis dan masuk di salah satu pilihan saya tersebut. Saya pun memilih lokasi tes di Yogyakarta, sesuai lokasi pilihan pertama saya di SNMPTN Tertulis. Saya, ibu saya, dan beberapa teman saya terbang ke Yogyakarta, dan bersama-sama tes di UIN Yogyakarta.

Dua hari tes, dan saya pulang ke rumah saya di Depok. Sambil menunggu hasil pengumuman, saya banyak berdo’a, selalu minta agar lulus di FK UGM. Lalu saya juga sedikit mempersiapkan daftar jadwal pendaftaran, tes dan pengumuman ujian mandiri di beberapa universitas, jika saja masih belum beruntung untuk lulus di FK UGM ataupun di pilihan lainnya.

Lalu, hari itu pun tiba. Orang tua saya sudah ‘gregetan’ menunggu hasil pengumuman tersebut. Saat itu, juga sama, saya baru saja telah mendirikan sholat maghrib secara berjama’ah di mesjid, namun saya membuka laptop di rumah, mencoba membuka situ pengumuman tersebut. Sekedar info, twitter sudah sangat ramai membicarakan SNMPTN, ya kalian mengerti lah ya seperti apa ramainya. Dan dengan ditemani ibu dan bapak saya, saya memasukkan nomor pendaftaran, berharap lulus di salah satu pilihan yang telah saya daftarkan. Dan apa hasilnya? Jika sadar saya adalah Abdullah Ichsan, mahasiswa FK UNPAD 2011, maka pasti hasilnya sudah bisa tertebak. Ya, sekali saya masih belum lulus di jalur yang satu ini. Saya ulang memasukkan nomor pendaftarannya sekitar 3-5 kali, namun hasilnya masih sama, yaitu belum lulus. Saya, orang tua saya, bersama-sama terdiam, sedikit tersenyum, namun pasti terbersit rasa kecewa di dalam hati.

Lalu saya iseng meng-copy pernyataan ketidaklulusan saya di situs SNMPTN dan saya post di twitter. Saya kira komentar dari teman-teman saya akan tidak jauh dari “Sabar ya san,” atau “Coba lagi, semangat.” Ternyata, subhanallah, satu orang me-reply tweet saya dengan kurang lebih berkata, “Itu tanda-tanda lulus san, coba tanya call center-nya,” dan reply tersebut pun banyak di-retweet oleh teman-teman saya yang lain. Mata saya berkaca-kaca membacanya, seraya berkata dalam hati, “Alhamdulillah, saya punya teman-teman yang luar biasa, terima kasih ya Allah, insya Allah saya akan terus berusaha.”

”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf:87)

Jelas, saya tidak mau tergolong kaum yang kafir. Maka tepat esok harinya, saya mulai mendaftar di berbagai universitas untuk mengikuti ujian mandiri, SIMAK UI, SMUP UNPAD, International Program Admission Test FK UGM, Jalur Undangan UMY, Ujian Mandiri UIN Syarif Hidayatullah, Ujian Mandiri UNDIP, dan Jalur Non-Subsidi UNHAS.

Hari-hari setelah itu saya jalani dengan mengikuti ujian kesana-kemari, mulai mengirimkan berkas SMUP UNPAD untuk cek nilai SNMPTN, mengikuti tes SIMAK UI, Ujian Mandiri UIN, dan Ujian Mandiri UNDIP di Jakarta, lalu juga kembali ke Yogyakarta untuk tes International Program FK UGM, bahkan pulang ke rumah di Makassar untuk emngikuti tes JNS UNHAS. Dan jujur, saya sempat berfikir, “Ah, kalau UNPAD, SNMPTN UNHAS saja saya tidak lulus, bagaimana dengan UNPAD?” Dua universitas yang paling yakin pada saat saya mengikuti ujian mandirinya adalah UIN, dan UGM. Namun kali ini, do’a saya berubah, tidak lagi meminta untuk masuk FK UGM, melainkan “Ya Allah, Engkau tahu apa yang kuinginkan, namun Engkau lebih tahu apa yang terbaik bagiku, maka berikanlah yang terbaik, wahai Yang Maha Mengetahui.”

Jujur, orang tua saya sangat gelisah di masa-masa ini, mereka terus bertanya, “Apa yang kurang nak? Apa lagi yang harus dilakukan? Bagaimana jika kamu belum lulus juga?” Namun alhamdulullah, Allah selalu memberi kekuatan dan ketenangan, sehingga saya selalu optimis dan menjawab semua kekhaatiran orang tua saya tersebut dengan senyum, “Insya Allah ada yang lulus bu, pak, kalaupun belum, tahun depan saya janji tidak akan memilih FK lagi, mungkin itu memang bukan yang terbaik jika Allah tidak meluluskan saya.” Aneh memang, biasanya anaknya yang menangis, bingung, gelisah, tapi inilah saya, sekali lagi menjadi beda itu sama sekalil tidak salah kok, malah saya bangga bisa menjadi beda.

Akhirnya, setelah beberapa minggu, beberapa bulan, keluarlah hasil ujian pertama, dari UNDIP, saya alhamdulillah lulus di S1 Ilmu Komunikasi. Saya mengucap hamdalah berkali-kali pada saat itu, saya sangat bahagia, saya pikir, mungkin jika yang lain belum lulus, inilah yang terbaik.

Lalu pengumuman selanjutnya dari UI, namun kali ini, saya belum beruntung, saya tidak lulus di pilihan-pilihan saya di UI. Sehingga kembali saya bersyukur sudah lulus di UNDIP, dan saya mulai membicarakan tentang pembayarannya bersama orang tua saya.

Berselang beberapa hari setelahnya saya pun saya sangat bersyukur saat mendapat pengumuman bahwa saya lulus di beberapa universitas lain, namun saat UNPAD dan UGM belum memberikan pengumuman saya berdo’a, “Ya Allah, tunjukkanlah padaku dan yakinkan aku mana yang terbaik, dan lancarkanlah jalanku dalam menggapai yang terbaik itu.”

Dan lagi-lagi Allah kembali menunjukkan kebenaran firmannya, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim: 7)

Siang itu, ya, siang yang akan saya ceritakan kali ini adalah siang yang saya sebut sebagai kenangan di awal cerita ini. STRATA SATU PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN! Alhamdulillahirobbil alamin, siang itu UNPAD mengumumkan saya, Abdullah Ichsan, lulus! Bahagia? Tentu, saya langsung sujud syukur dan menceritakan ini kepada orang tua saya. Dan alhamdulillah Allah melancarkan semua jalan saya sampai saya benar-benar resmi menjadi mahasiswa baru FK UNPAD 2011.
Saat saya memulai rangkaian kegiatan sebagai mahasiswa baru, Allah menunjukkan bahwa memang FK UNPAD-lah yang terbaik untuk saya, bukan di UGM, UNHAS, universitas lainnya, atau mengapa saya belum lulus saat SNMPTN. Pertama dengan saya tidak lulus di UGM, lalu rekomendasi beberapa dokter mengatakan lebih baik saya memilih UNPAD walaupun saya juga lulus di FK UNHAS, dan banyak lagi hal-hal yang meyakinkan saya untuk masuk FK UNPAD, dan saya pikir jika saya sudah lulus di SNMPTN, saya akan berhenti belajar, cepat puas, dan tidak mau lagi banyak berdo’a dan saya tidak akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa setelah berjuang ini. Maka saya makin yakin bahwa Allah selalu yang terbaik untuk hambanya. Sehingga jika ada yang masih bingung mengapa masuk FK UNPAD, maka jangan pernah menyesal, jangan pernah bersedih hati, dan tenanglah, tersenyumlah, berbahagialah, serta bersyukurlah, karena inilah yang insya Allah terbaik untukmu. :)

Friday, May 27, 2011

Hal yang Lebih Baik daripada Menginginkan Sesuatu yang Lebih Baik :)

Halo lagiiii :D
Hahaha sudah lama sekali ya rasanya saya belum menulis di blog yang penuh manis dan pahit kehidupan :D
Baiklah, untuk kali ini, saya sadar kok kalo judulnya membingungkan T___T
Tapi inilah kehidupan, terkadang rasanya beda kok dari kelihatannya seperti kopi dan susu :)

Beberapa waktu lalu, Alhamdulillah saya sudah lulus dari bangku SMA, walaupun dengan nilai yang saya bilang sangat pas-pasan, dan walaupun lagi saya belum dapat universitas negeri dengan jurusan kedokteran yang saya inginkan, serta walaupun lagi saya belum bisa dikatakan menguasai apa yang harusnya saya kuasai untuk SNMPTN nanti tanggal 31 Mei - 1 Juni 2011. Tapi tenang dulu, sudah lama jug rasanya saya tidak mengurus kopi dan susu saya di dunia maya. Hahaha :D

Nah, mari kita mulai :)
Sesuai dengan yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya, saya jelas belum mendapatkan yang saya inginkan, dan oleh karena itu saya tentu menginginkan hal yang lebih baik. Ketika saya melihat nilai saya, hasil pengumuman SNMPTN undangan, dan perkiraan kemampuan saya, saya merasa ingin lebih ingin lebih dan ingin lebih lagi. Tapi tepat pada pagi ini, dua orang yang pernah saaangat dekat dengan saya, yaitu K.C dan V.B, secara tidak langsung mengingatkan saya bahwa saya adalah orang yang terlalu "bernafsu" untuk mendapatkan sesuatu yang bagi saya lebih baik padahal itu belum tentu pasti saya dapatkan dan belum tentu lebih baik dari apa yang saya miliki. Saat ini saya benar-benar merasa terlalu sombong dan terkesan bodoh.

Terkadang karena saat kita memiliki sesuatu, kita berfikir bahwa apa yang kita miliki itu masih kurang, masih kurang, dan masih kurang terus tanpa pernah puas. Padahal yang sering terjadi adalah yang sedang kita miliki itu sudah jelas sangat baik dan kita bisa mempertahankan dan menjaganya. Sedangkan yang kita ingin miliki selanjutnya belum tentu bisa kita miliki dengan baik dan belum tentu juga kita bisa menjaga dan mempertahankannya. Memang itu adalah kebiasaan manusia, tapi jelas itu adalah kebiasaan yang super buruk, teman-teman.

Lalu bagaimana dengan prestasi? Bagaimana dengan kemampuan? Apa kita harus tetap diam di satu titik saja dan cepat puas? Tentu tidak!!  Maka dari itu untuk soal prestasi, sebelum berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, yang coba pikirkan dulu apa saya benar-benar sudah mahir dalam bidang itu? Kalau belum maka kuasai dulu bidang tersebut baru mencari prestasi yang lebih baik lagi. Lebih buruk lagi jika kita sirik dan iri terhadap orang lain yang mendapat prestasi lebih baik sedangkan kita tidak, lalu kita tidak rela dan berusaha menjatuhkan orang tersebut. Hal itu fatal, teman-teman. Coba pikirkan lagi, apa kita siap jika harus mempertahankan perstasi yang setinggi itu? Apa kita siap jika tiba-tiba prestasi kita jatuh? Mungkin orang yang mendapat prestasi yang lebih baik itu sudah siap, maka dari itu ia mendapatkannya. Jadi, tidakkah lebih baik kita membenahi diri kita dan bersyukur lebih dahulu sebelum berharap lebih?

Selanjutnya, selain untuk kemampuan, judul kali ini sangatlah cocok untuk kita hubungkan dengan kekayaan, atau bahkan pasangan hidup kita. Untuk kekayaan, jelas, apakah kita sudah bisa merawat barang-barang yang kita miliki sekarang? Apa kita sudah bisa menggunakan semua yang kita miliki sekarang dengan efektif? Jika belum, maka jangan dulu meminta lebih. Karena mungkin saat kita mendapatkan hal yang lebih, kita malah menjadi tidak begitu peduli, tidak bisa menjaga, dan tidak bisa menggunakannya dengan baik.

Sedangkan untuk pasangan hidup, baik pacar, atau bahkan suami/istri. Hal ini cukup berbeda, sangat amat sedikit sekali pasangan yang mau diduakan. Berarti untuk hal pasangan, anda harus meninggalkan satu dulu baru mencari yang lain. Nah, coba pikirkan, pikirkan, dan pikirkan lagi, apakah orang yang kita tuju ini akan lebih baik, lebih menyayangi kita, dan lebih menghargai kita dibandingkan dengan pasangan kita yang sekarang? Jika belum tentu, jangan, kecuali memang pasangan anda yang sekarang sudah sangat parah tidak menghargai anda dan terkdang terlihat tidak menyayangi anda. Anda tidak akan pernah tau seperti apa orang itu dalam berpasangan dengan melihat kehidupan sehari-harinya karena itu jauh beda halnya. Maka, jika pasangan hidup anda sudah baik, setidaknya bisa memberikan apa yang telah anda berikan dengan balanced take-and-give atau bahkan bisa memberikan yang lebih baik dari apa yang anda berikan, jangan sekali-kali anda memintanya untuk mengakhiri hubungan anda.

Syukuri semuanya, tidak semua hal yang menurut anda baik adalah yang terbaik untuk anda. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, karena anda pun jelas sudah tahu, waktu tak bisa dikembalikan, dan tiap hal memiliki plus-minus masing masing. Satu hal lagi, tenang saja, kalau memang sudah waktunya, anda akan mendapatkan hal yang anda inginkan itu jika itu memang baik untuk anda. Hidup itu jelas indah jika kita selalu berusaha tersenyum dan menikmati apa yang kita miliki, termasuk kopi dan susunya. Hehehe :)

SENTENCE(S) OF THIS ENTRY:
"Padahal yang sering terjadi adalah yang sedang kita miliki itu sudah jelas sangat baik dan kita bisa mempertahankan dan menjaganya. Sedangkan yang kita ingin miliki selanjutnya belum tentu bisa kita miliki dengan baik dan belum tentu juga kita bisa menjaga dan mempertahankannya."